PERKEMBANGAN EMOSI PADA ANAK



BAB I
PERKEMBANGAN EMOSI ANAK

A.    Pengertian Emosi

Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).[1]

B.     Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu

Pada masa perkembangan anak dan remaja pasti melewati tahap pengaruh emosi berikut ini beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya[2] :
1.      Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang dicapai.
2.      Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah rasa putus asa.
3.      Menghambat konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan dapat menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara.
4.      Terganggunya penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
5.      Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari.[3]

Jenis-Jenis Emosi dan Dampaknya Pada Perubahan Fisik

Jenis Emosional
Perubahan Fisik
1. terpesona
reaksi elektris pada kulit
2. marah
peredaran darah bertambah cepat
3. terkejut
denyut jantung bertambah cepat
4. kecewa
bernapas panjang
5. sakit/marah
pupil mata membesar
6. takut/tegang
air liur mengering
7. takut
Merinding
8. tegang
terganggu pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar


Emosi merupakan bagian dari aspek afektif yang memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian dan perilaku seseorang. Emosi bersifat fluktuatif dan dinamis, artinya perubahan emosi sangat tergantung pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Anak dibawah tiga tahun cenderung memiliki kemampuan pengendalian emosi lemah. Ia sulit mengontrol perasaan emosinya, sehingga apa yang dirasakan langsung diungkapkan secara nyata dan dapat diketahui oleh orang lain. Emosi anak mudah berubah-ubah sesuai dengan pengaruh dari kondisi lingkungan eksternal.[4]

a)      Emosi Anak Usia Tiga Tahun Pertama
Emosi ialah kondisi perasaan bagian dari aspek afeksi yang mendasari seluruh perilaku dalam kehidupan setiap individu. Biasanya emosi bersifat dinamis, artinya emosi anak seringkali mengalami perubahan yang sangat cepat. Hal ini terjadi seiring bagaimana anak menyikapi stimulus yang berasal dari lingkungan. Cara berfikirnya tak mendalam, artinya anak kurang mampu menganalisa, mengevaluasi maupun memikirkan sesuatu dari segi keuntungan maupun kerugian terhadap sesuatu hal, sehingga cara mengambil keputusan pun juga cepat.
Dalam pandangan teori perkembangan kognitif, kemampuan berfikir anak usia 1-2 tahun cenderung bersifat egosentris. Piaget menyatakan bahwa anak egosentris ditandai dengan kemampuan berfikir dan memandang sesuatu hanya dalam perspektif sendiri. Anak hanya melihat segala sesuatu berdasarkan pemikiran, keinginan, kehendak maupun kebutuhan diri sendiri.
Karena belum mampu memahami orang lain, maka bagi anak 1-2 tahun yang keinginannya tidak terpenuhi seringkali beranggapan bahwa lingkungan luar berbuat jahat dan tidak bersahabat dengan dirinya. Hal ini memberi pengaruh terhadap terhadap perubahan emosinya. Anak langsung merasa jengkel, sedih, kecewa yang diperlihatkan dengan cara menangis. Namun demikian walau anak menangis, tetapi bila ia dibujuk dengan suara lembut dan penuh kasih sayang maka suara tangisnya dapat segera berhenti. Anak mudah melupakan peristiwa tadi dan kembali menjadi riang gembira. Jadi, dengan demikian perubahan emosi anak-anak usia 1-2 tahun bersifat fluktuatif.

Fluktuasi emosi anak-anak awal
senang gembira

senang gembira

senang gembira

















sedih-kecewa

sedih-kecewa


b)      Jenis-jenis Emosi Anak Usia Tiga Tahun Pertama
Secara umum ada dua jenis emosi anak usia tiga tahun pertama, yakni emosi negatif dan emosi positif. Bila seseorang memiliki pengamalaman emosi tertentu, maka iua merasa siap untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kondisi emosinya. Bila anak memiliki emosi negatif maka akan mengembangkan perilaku buruk, sebaliknya jika anak memiliki emosi positif maka anak akan mengembangkan sikap yang positif pula.

1)      Emosi Negatif
Emosi negatif (negatif emotion) adalah sutau ungkapan perasaan-perasaan yang cenderung ditandai dengan kondisi yang tidak nyaman dan tidak sesuai dengan keinginan (harapan, kemauan) diri sendiri yang disebabkan oleh keadaan lingkungan eksternal. Yang termasuk dalam kelompok emosi negatif antara lain jengkel, marah, takut, curiga, kuatir, cemas, kecewa, bingung, merasa terancam, konflik dan sebagainya. Bila anak merasakan emosi ini maka ia segera menangis.
2)      Emosi Positif
Emosi positif (positive emotion) adalah suatu kondisi perasaan yang membuat anak menjadi gembira, bahagia, bersemangat, dan percaya diri untuk melakukan sesuatu. Anak yang mengalami perasaan senang, gembira atau bahagia, ditandai dengan muka tersenyum atau tertawa. Karena lingkungan sosial, terutama keluarga yang selalu memberikan suatu perhatian, penerimaan, penghargaan atau hadiah, maka anak akan mudah senang, gembira, bahagia, tersenyum atau tertawa.

C.    CIRI-CIRI EMOSI

Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut :
·         Lebih bersifat subjektif daripaada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berfikir.
·         Bersifat fluktuatif (tidak tetap).
·         Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.

Karakteristik Emosi Anak

EMOSI ANAK
1.      Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba
2.      Terlihat lebih hebat/kuat
3.      Bersifat sementara/dangkal
4.      Lebih sering terjadi
5.      Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.

D.    PENGELOMPOKKAN EMOSI

Emosi dapat dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis).
a.       Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar.
b.      Emosi psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini, diantaranya :
Ø  Perasaan intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk (a) rasa yakin atau tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah, (b) rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, (c) rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus diselesaikan.
Ø  Perasaan sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perseorangan atau perkelompok. Wujud perasaan ini seperti, (a) rasa solidaritas, (b) persaudaraan, (c) simpati, (d) kasih sayang, dan sebagainya.
Ø  Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya, (a) rasa tanggung jawab (responsibility), (b) rasa bersalah apabila melanggar norma, (c) rasa tentram dalam menaati norma.
Ø  Perasaan keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan dengan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
Ø  Perasaaan ketuhanan, salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal tuhannya. Dengan kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Divinans” dan “Homo Religius”, yaitu sebagai makhluk yang berke-Tuhan-an atau makhluk beragama.

Emosi yang Umum Pada Awal Masa Kanak-kanak
·         Amarah
Penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan, tidak tercapainya keinginan dan serangan yang hebat dari anak lain.
·         Takut
Pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut, seperti cerita-cerita, gambar-gambar, acara radio dan televisi, dan film-film dengan unsur yang menakutkan.
·         Cemburu
Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain didalam keluarga.
·         Ingin tahu
Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain.
·         Iri hati
Anak-anak sering iri hati mengenai kemampuan atau barang yang dimiliki orang lain. Yaitu diungkapkan dengan cara mengeluh dan mengungkapkan apa yang diinginkannya.
·         Gembira
Anak-anak merasa gembira karena sehat dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit.
·         Sedih
Anak-anak akan sedih karena kehilangan sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati. Diungkapkan dengan cara menangis.
·         Kasih sayang
Anak-anak belajar mencintai orang, binatang, atau benda-benda yang menyenangkan.[5]


E.     TEORI-TEORI EMOSI

Canon Bard merumuskan teori tentang pengaruh fisiologi terhadap emosi. Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian pada proses syaraf. Suatu situasi yang saling mempengaruhi antara thalamus (pusat penghubung antara bagian bawah otak dengan susunan urat syaraf di satu pihak dan alat keseimbangan atau cerebellum dengan Creblar Cortex (bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses kerjanya pada jiwa taraf tinggi, seperti berfikir).
James dan Lange, menyatakan bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Lindsley, mengemukakan teorinya yang disebut “activation the-ory” (teori penggerakan), menurut teori ini emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak.
Jahn B. Waston, menyatakan bahwa ada tiga pola dasar emosi yaitu takut (fear), marah (anger), cinta (love). Ketiga jenis emosi tersebut menunjukkan respons tertentu pada stimulus tertentu pula, tetapi kemungkinan terjadi pula modifikasi.

F.     Perkembangan Emosi Anak Tiga Tahun Pertama

Para ahli psikologi perkembangan mengungkapkan bahwa perkembangan emosi anak-anak awal sejak masa lahir hingga berusia 36 bulan (3 tahun).[6]

Usia
Karakteristik
0-3 bulan
Bayi terbuka terhadap stimulasi luar. Mereka mulai menunjukkan ketertarikan dan rasa ingin tahu terhadap sesuatu hal yang baru. Mereka mudah tersenyum dengan orang lain.
3-6 bulan
Bayi dapat mengantisipasi terhadap suatu kejadian dan pengalaman yang tak disukainya. Mereka mungkin menjadi marah dan waspada. Mereka sering mengoceh (cool), tersenyum (smile), dan tertawa (laugh). Hal ini merupakan waktu awal kebangkitan pengalaman relasi antara bayi dengan orang tuanya.
6-9 bulan
Bayi mulai melakukan aktivitas bermain sosial untuk memperoleh respon dari orang lain. Mereka “berbicara” melalui sentuhan atau perabaan terhadap objek benda permainan itu.
9-12 bulan
Bayi secara intensif berusaha untuk menarik perhatian orangtua, tetapi akan merasa takut bila berhadapan dengan orang asing atau dalam situasi baru. Menjelang usia 1 tahun, mereka mulai mampu mengungkapkan emosinya secara lebih jelas, menunjukkan perubahan suasana hati (mood), ambivalensi, dan taraf/tingkat kuat-lemahnya perasaan (graduation of feeling).
12-18 bulan
Anak-anak melakukan eksplorasi terhadap lingkungan, dengan cara bermain-main, memegang, menyentuh objek benda yang ada disekitarnya. Hal ini dilakukan, dalam upaya untuk menarik perhatian orangtua-objek kelekatannya, serta untuk menguasai lingkungan hidupnya. Selain itu, fungsi eksplorasi ini ialah untuk meningkatkan rasa percaya diri maupun untuk belajar mengungkapkan potensinya dalam bentuk aktivitas.
18-36 bulan
Anak-anak kadang menjadi cemas karena mereka menyadari bahwa dirinya telah berpisah dari orangtuanya. Mereka melakukan permainan peran untuk mengidentifasi sikap/perilaku orangtua.


G.    Kelekatan Emosional

Yang dimaksud dengan kelekatan emosional ialah ikatan emosional yang bersifat timbal balik antara seorang bayi dengan pengasuhnya yang disebabkan oleh perkembangan kualitas hubungan sebelumnya. Orangtua yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dengan layak akan menimbulkan perasaan aman, nyaman, dan tenang bagi anak. Kelekatan emosional memiliki manfaat bagi seorang bayi untuk memperoleh rasa aman, perlindungan dan kenyamanan dari ibunya. Adapun manfaat kelekatan emosional bagi seorang ibu adalah kesempatan untuk mengembangkan kepribadian anak yang sehatdan mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial baik masa kini maupun masa yang akan datang. Ibu dapat menunjukkan kasih-sayang, perhatian dan pemeliharaannya yang tulus kepada bayi dengan baik. Sebab bayi benar-benar sudah merasa percaya dan bergantung pada ibunya sebagai orang tua yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.[7]

1.      Perkembangan Kelekatan Emosi

Marry Ainsworth bersama John Bowlby meneliti pertama kali mengenai kelekatan emosional pada tahun 1950-an. Mereka melakukan penelitian terhadap perilaku binatang dengan teknik observasi. Kemudian mereka juga melakukan observasi terhadap anak-anak yang mengalami gangguan perilaku dengan pendekatan psikoanalisis. Bowlby menyatakan bahwa ikatan antara ibu dan anak sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan kelekatan emosional di antara keduanya. Ibu dapat memberikan kasih sayang dan perhatian dengan baik kepada bayinya. Bayi merasa aman, nyaman dan percaya pada ibunya sebab mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Marry Ainsworth melakukan penelitian observasi terhadap bayi-bayi negara Uganda, Afrika di rumahnya masing-masing. Suatu saat ibu meninggalkan bayi dalam waktu kurang 30 menit. Bayi usia 10-24 bulan merasa asing setelah ibunya meninggalkan dirinya seorang diri. Sementara itu, dalam suatu penelitian observasi, Marry Ainsworth dan kawan-kawannya menemukan 3 pola kelekatan emosional yang dialami bayi-bayi di Amerika Serikat, antara lain pola secure attachment (66%), avoidant attachment (20%) dan ambivalent attachment (12%).[8]

2.      Pola-pola Kelekatan Emosi

Yang dimaksud dengan situasi yang asing (strange situation) ialah suatu kondisi yang dipersepsi oleh bayi sebagai suatu ancaman terhadap dirinya, karena ibunya sudah menjauh dari dirinya. Ibu dianggap sebagai tokoh yang memberi perlindungan dan rasa aman bagi bayi. Situasi yang asing terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit. Menurut Ainsworth  dan kawan-kawan ada 4 pola kelekatan emosional yaitu (1) kelekatan emosi yang aman, (2) kelekatan emosi yang tidak aman, (3) kelekatan emosi yang membingungkan dan (4) kelekatan emosi yang tidak terarah dan tidak terorganisasi.

a)      Kelekatan Emosional yang Aman (Secure Attachment)
Suatu kondisi kelekatan emosional yang ditandai dengan perasaan aman, tenang dan nyaman pada seorang bayi ketika bayi berada didekat ibunya. Bayi akan melakukan protes atau menangis bila ibunya meninggalkan dirinya seorang diri, kemudian bayi akan menyambut kehadiran ibunya dengan perasaan gembira dan bersemangat.
b)      Kelekatan Emosional Tidak Aman (Avoidant Attachment)
Suatu kondisi kelekatan emosional yang ditandai dengan perilaku bayi yang jarang tidak menangis bila berpisah dengan ibunya, namun ia akan menolak (menghindar) untuk melihat, menoleh atau menatap muka bila ibunya datang mendekatinya. Bayi cenderung menangis dan tidak melakukan kontak mata dengan ibunya.
c)      Kelekatan Emosional yang Membingungkan (Ambivalent or Resistant Attachement)
Suatu kelekatan emosional pada bayi yang ditandai dengan perasaan bingung, cemas atau tidak aman sebelum ibunya meninggalkan dirinya. Bayi juga merasa bingung dalam menyingkapi kehadiran ibunya di dekatnya.
d)     Kelekatan Emosional yang Tidak Terarah dan Tidak Terorganisir (Disorganized-disoriented Attachement)
Bayi tidak mampu mengorganisir perilakunya dengan jelas dan tidak terarah ketika melihat ibunya datang kembali mendekat dirinya. Bayi tidak dapat memberikan respon secara stabil dan tidak jelas terhadap kehadiran ibunya.


Gambaran Perilaku Kelekatan Emosional dalam Situasi yang Asing

Klasifikasi Kelekatan Emosional
Gambaran Perilaku
Secure
Anak bermain dan melakukan kegiatan bermain eksploitasi secara bebas tanpa merasa terganggu oleh kehadiran orang lain. Anak memberi respon dengan penuh semangat ketika ibunya mendekati dirinya.
Insecure-avoidan
Anak tidak menunjukakn kontak mata ketika ia mengetahui kehadiran ibunya. Anak tidak peduli terhadap orang-orang terdekat dalam keluarga.
Insecure-resistant
Anak merasa tidak nyaman bila orangtuanya menjauh dari dirinya, karena anak merasa asing bila tinggal sendirian.
Disorganized-disoriented
Anak memberikan respon secara tidak konsisten dalam situasi yang asing. Suatu saat anak merasa stres, tetapi saat yang lain, ia mungkin merasa tenang.


3.      Kecemasan Terhadap Perpisahan Emosional

Yang dimaksud dengan kecemasan emosional ialah suatu perasaan cemas yang dialami oleh seorang bayi sebagai akibat dari suatu kondisi asing setelah dirinya ditinggalkan oleh ibunya. Setelah ibunya meninggalkan bayinya, maka bayi akan merasa berada dalam situasi yang asing. Reaksi yang dilakukan bayi dalam menghadapi situasi tersebut adalah menangis. Kecemasan ini terjadi pada bayi usia 8-10 bulan. Ada dua jenis kecemasan terhadap perpisahan emosional yang dialami oleh bayi yaitu :
a)      Kecemasan Keterasingan (Stranger Anxiety)
Yang dimaksud dengan kecemasan keterasingan ialah suatu perasaan cemas yang dialami oleh bayi karena dirinya merasa berada dalam situasi yang asing setelah ditinggalkan ibunya. Bayi hanya akan merasa nyaman, tenang dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas tertentu bila berada didekat ibunya, tetapi ketika ibunya meninggalkan dirinya, maka bayi akan merasa sendiri, terasing dan kemudian melakukan protes. Vallas, Miller, dan Ellis menyatakan sikap protes bayi terhadap kondisi keterpisahan dari ibunya dinamakan protes keterpisahan (separation protest).
b)      Kecemasan Keterpisahan (Separation Anxiety)
Suatu perasaan cemas yang dialami oleh bayi karena bayi takut untuk berpisah dengan ibunya dinamakan kecemasan keterpisahan. Bayi akan menangis bila ibunya akan meninggalkan dirinya. Bayi berharap agar ibunya jangan meninggalkan dirinya, tetapi supaya dekat dan menemani dirinya. Menurut Vallas, bayi yang berumur 8 bulan seringkali mengalami kecemasan ini. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan ikatan emosional bayi dengan ibunya.


4.      Intervensi untuk Mengatasi Kecemasan Perpisahan Emosional Bayi

Menurut Fine & Calson ada dua cara yang dapat dilakukan oleh seorang ibu ytang akan meninggalkan bayinya dalam jangka waktu tertentu yaitu :
a)      Komunikasi dari hati ke hati
Upaya untuk dapat mengatasi kecemasan yang dialami oleh bayi tersebut adalah dengan komunikasi dari hati ke hati. Sebelum meninggalkan bayinya, sebaiknya ibu menyampaikan keinginannya dan rencana kedangatangannya. Bayi yang mendengar rencana apa yang akan dilakukan oleh ibunya cenderung akan mudah merasa tenang dan siap untuk menghadapi situasi bila ditinggalkan oleh ibunya dalam jangka waktu tertentu. Karena bayi mampu memahami informasi yang disampaikan oleh ibunya, sehingga bayi akan dapat mampersiapkan diri (self-ready), mengontrol diri (self-control) dan menjadi tenang. Sebaliknya bayi yang tidak mendengar informasi daribunya, bayi tersebut cenderung menganggap bahwa dirinya ditinggal dan tidak diperhatikan lagi, sehingga bayi merasa belum siap menerima perpisahan dengan ibunya dan akhirnya akan merasa sedih serta menangis.
b)      Segera Memanggil Nama Bayinya dengan Suara Lembut
Suara yang lembut dari ibu akan membuat perasaan tenang bagi bayinya. Bayi akan menunjukkan reaksi tenang, gembira dan bahagia setelah melihat kehadiran ibun ya kembali. Kehadiran ibunya akan memulihkan perasaan asing dan perasaan aman kembali bagi bayi. Bayi yang selalu memperoleh perhatian langsung dengan teguran, sapaan maupun panggil nama dari ibunya akan merasa aman, tenang dan percaya diri bahwa lingkungan hidupnya benar-benar memberikan kondisi yang nyaman. Sebaliknya bayi dipanggil dengan suara yang keras cenderung menjadi stress, tidak tenang dan menangis.


H.    Perkembangan Psikososial Anak Usia Tiga Tahun Pertama

Menurut Urie Bronfenbrenner perkembangan psikososial anak tiga tahun pertama dipengaruhi oleh lingkungan sistem mikro dalam keluarga, sekolah maupun lembaga kesehatan. Lingkungan kehidupan pertama yang memberi pengaruh besar bagi perkembangan emosional anak adalah keluarga. Orangtua merupakan orang-orang penting yang langsung berhubungan dengan anak. Selanjutnya, anak akan berhubungan dengan lembaga kesehatan untuk mencapai keseimbangan tubuh yang sehat.
Dalam lingkungan keluarga, pengaruh signifikan terhadap perkembangan emosional anak ditandai dengan dua kutub yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Artinya, bila kondisi keluarga memberikan kesempatan yang positif bagi anak, maka akan menumbuh kembangkan emosi yang cenderung negative, labil dan abnormal. Menurut Erik Erikson ada tiga tahap perkembangan emosional pada anak usia tiga tahun pertama (atitama) yaitu :
ü  Basic-trust >< Mis-trust : Usia 0-1,5 tahun
Basic-trust (kepercayaan dasar) ialah suatu sikap percaya pada seorang anak usia 0-1,5 tahun terhadap lingkungan sosial karena telah memberi jaminan kebutuhan-kebutuhan dasar.
ü  Autonomi >< Shame, Doubt : Usia 1,995-3 tahun
Kemandirian (autonomy) ialah suatu sikap yang mandiri pada usia anak 1,5-3 tahun untuk melakukan suatu kegiatan penjelajahan terhadap lingkungan luar.
ü  Inisiative >< Guilt : Usia 3-5 Tahun
Kegiatan penjelajahan (exploration activity) yang dilakukan oleh anak pada masa sebelumnya, memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan inisiatif, kreativitas maupun kemampuan mengambil suatu keputusan (decision making ability). Anak akan merasa percaya diri bahwa untuk kegiatan menjelajah terhadap lingkungan baru memberikan pengalaman baru.

I.       Intervensi Dini untuk Pengembangan Psikososial yang Sehat

Pandangan Erik Erikson memberi gambaran nyata bagi setiap orangtua untuk bertindak secara bijaksana. Agar dapat mencegah perkembangan kepribadian yang buruk pada anak bawah tiga-lima tahun, maka orangtua perlu melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengantisipasinya, sehingga mereka dapat memberi perlakuan positif dan mendorong perkembangan kepribadian yang sehat. Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk mengembangkan psikososial yang sehat yaitu :
·         Orangtua menjamin kebutuhan dasar secara layak dan memadai.
·         Orangtua menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak-anaknya.
·         Orangtua memberikan dukungan sosial dan mendorong anak-anak untuk melakukan aktivitas-aktivitasnya dengan berani tanpa merasa takut berbuat kesalahan.



















BAB III
KESIMPULAN

Menurut English and English, emosi adalah “A complx feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).
Pada masa perkembangan anak dan remaja pasti melewati tahap pengaruh emosi berikut ini beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya :
6.      Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang dicapai.
7.      Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah rasa putus asa.
8.      Menghambat konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan dapat menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara.
9.      Terganggunya penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari.






























DAFTAR PUSTAKA

Dr. H. Syamsu Yusuf LN, M. Pd. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. Pt Remaja Rosdakarya.
Yudrik Jahja. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta. Kencana.
Elizabeth B. Hurlock. 1992. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima. Jakarta. Gelora Aksara Pratama.
Drs. Agoes Dariyo, Psi. 2007. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (PSIKOLOGI ATITAMA). Bandung. Refika aditama.


[1] Yudrik Jahja, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN, Kencana (Jakarta:2011), hal. 188
[2] Yudrik Jahja, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN, Kencana (Jakarta:2011), hal. 189
[3] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosdakarya (Bandung:2000), hal. 115-116
[4] Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (PSIKOLOGI ATITAMA), Refika Aditama (Bandung:2007), hal. 180
[5] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima, PT. Gelora Aksara Pratam (Jakarta:1992), hal. 116
[6] Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (PSIKOLOGI ATITAMA), Refika Aditama (Bandung:2007), hal. 18184-185
[7] Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (PSIKOLOGI ATITAMA), Refika Aditama (Bandung:2007), hal. 18185
[8] Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (PSIKOLOGI ATITAMA), Refika Aditama (Bandung:2007), hal. 185-186

Comments

Popular posts from this blog

LOVE FROM ANOTHER STAR

4 Drama Korea yang Wajib ditonton Tahun 2018

Pemeran utama drama TWO CORP “Jo Jung Suk” akan menikah Musim gugur ini !!