MEDIA PENGAJARAN
MAKALAH
KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PAI DALAM PROSES PEMBELJARAN
KLASIKAL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Media Pengajaran
Dosen Pengampu: Umar, M. Pd. I
Disusun Oleh Kelompok IV:
Abdurrahman
Efendi (1281871)
Ali
Maskuri (1282091)
Armayu
Ningsih (1282351)
Laela
Fitri (1283611)
Putri
Astari (1284291)
Kelas/Semester : A/IV
(Empat)
Jurusan Tarbiyah
Program Studi Pendidikan Agama Islam
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji milik Allah SWT yang
telah melimpahkan hidayah-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh.
Shalawat dan salam semoga tetap
terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menunjukkan kepada kita jalan
yang paling baik diantara jalan yang ada di dunia ini untuk menuju kepada
ridhotillah Tuhan semesta alam. Dengan pertolongan-Nya, penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini, yang berjudul “KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PAI
DALAM PROSES PEMBELAJARAN KLASIKAL” tanpa suatu halangan apa pun.
Terima kasih penyusun ucapkan kepada Bapak Umar, M. Pd. I . selaku dosen MEDIA
PENGAJARAN, yang telah memberikan pengarahaan dan bimbingannya sehingga
tugas ini dapat terselesaikan. Dan tak lupa penyusun ucapkan terima kasih
kepada seluruh pihak yang telah membantu terselesainya tugas ini.
Penyusun berharap agar pembaca dapat
memberikan kritik dan saran serta masukan yang membangun guna perbaikan
kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada
umumnya, dan penyusun pada khususnya.
Akhirnya penyusun berharap semoga
makalah ini bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam
pembelajaran, dan semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah kita. Amin...!!!
Metro, Maret 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... 1
KATA
PENGANTAR................................................................................... 2
DAFTAR
ISI.................................................................................................. 3
BAB
I PENDAHULUAN.............................................................................. 4
A.
Latar
Belakang Masalah....................................................................... 4
B.
Rumusan
Masalah................................................................................. 4
BAB
II PEMBAHASAN............................................................................... 5
A.
Pengelolaan
Kelas................................................................................. 5
B.
Pengelolaan
Pembelajaran.................................................................... 7
C. Ciri Mengajar Klasikal Yang Efektif
BAB
III KESIMPULAN............................................................................... 10
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Di
era globalisasi sekarang ini banyak dari pendidik gagal dalam menyampaikan
materi ajar, itu semua selalu bukan karena pendidik kurang menguasai bahan,
tetapi karena pendidik tidak tahu bagaimana cara menyampaikan materi pelajaran
tersebut dengan baik dan tepat sehingga peserta didik dapat belajar dengan
suasana yang menyenangkan dan juga mengasyikkan, maka pendidik perlu memiliki
pengetahuan tentang pendekatan dan teknik-teknik pembelajaran dengan memahami
teori-teori belajar yang baik dan tepat.
Berbagai penelitian mengenai
pembelajaran secara umum di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa banyak siswa
merasa terintimidasi oleh sekolah, karena sistem pembelajaran cenderung
menggunakan pendekatan birokratik bukan pendekatan pedagogik.
Pada makalah ini penyusun akan
memaparkan tentang model-model pembelajaran, tetapi penyusun hanya akan
membahas tentang salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran
klasikal.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di
atas, maka yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini yaitu, sebagai
berikut:
1.
Apakah
model pembelajaran klasikal cocok digunakan dalam proses pembelajaran sekarang
ini?
2.
Bagimana
cara pendidik dalam menggunakan model pembelajaran klasikal ini?
BAB II
PEMBAHASAN
v MODEL PEMBELAJARAN KLASIKAL
Group presentation adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada
sejumlah siswa, yang biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah di
kelas. Model pembelajaran individual menurut Nasution (2000) lebih sukar
dijalankan dari pada model pengajaran klasikal.[1]
Dalam buku Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, terdapat
beberapa teori belajar, yaitu teori koneksionisme, teori pembiasaan klasikal,
dan teori pembiasaan perilaku respons. Di sini penyusun akan membahas satu
teori dari ketiga teori tersebut yaitu teori pembiasaan klasikal. Teori
pembiasaan klasikal ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan
oleh Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ilmuwan berkebangsaan Rusia. Teori
pembiasaan klasikal merupakan sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan
cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.[2]
Pembelajaran klasikal mencerminkan kemampuan utama guru, karena
pembelajaran klasikal ini merupakan kegiatan belajar dan mengajar yang
tergolong efisien. Pembelajaran secara klasikal ini memberi arti bahwa seorang
guru melakukan dua kegiatan sekaligus, yaitu:
A.
Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan
terselenggarakannya kegiatan pembelajaran secara baik dan menyenangkan yang
dilakukan di dalam kelas diikuti sejumlah siswa yang dibimbing oleh seorang
guru.[3]
Dalam hal ini guru dituntut kemampuannya menggunakan teknk-teknik
penguatan dalam pembelajaran agar ketertiban belajar dapat diwujudkan.
Pengajaran klasikal dirasa lebih sesuai dengan kurikulum yang uniform, yang dinilai
melalui ujian uniform pula.
Hasil penelitian J. H. Pestalozzi (1746-1827) mengajrkan
bemacam-macam mata pelajaran pertukaran di sekolahnya. Sejak saat itu
pengajaran klasikal menjadi populer sebagia pengganti pengajaran individual
oleh seorang tutor. Pengajaran klasikal merupakan keharusan dalam menghadapi
jumlah murid yang membanjiri sekolah sebagai akibat demokrasi, industrialisasi,
pemerataan, dan pendidikan atau kewajiban belajar. Dengan sendirinya dicari
usaha untuk memperbaiki pengajaran klasikal tersebut. Kurikulum dijadikan
uniform bagi seluruh negara, ujian akhir dan tes masuk sedapat mungkin
disamakan untuk semua jenis sekolah.[4]
Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah sama bagi semua,
bila diijinkan buku-buku lain dapat digunakan asalkan dasarnya sama yaitu mengacu
pada kurikulum yang telah ditentukan pemerintah. Pestalozzi diakui sebagai
tokoh yang melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pendidikan, antara lain:
1)
mendemokrasikan
pendidikan dengan menyatakan adalah hak mutlak dari setiap anak untuk
mengembangkan potensi dirinya sepenuhnya;
2)
mempsikologikan
pendidikan, yaitu teori dan praktek pendidika harus didasarkan pada psikologi
atau ilmu tentang karakteristik jwa individu manusia;
3)
mendasarkan
pendidikan pada perkembangan organik daripada pemindahan gagasan-gagasan;
4)
pendidikan
mulai dengan persepsi tentang objek-objek yang konkrit, dan
pengalaman-pengalaman terhadap respon-respon emosional yang aktual;
5)
perkembangan
adalah sebuah pengembangan potensi secara berangsur-angsur. Setiap bentuk
pengajaran harus dilakukan secara perlahan-lahan, melalui perjalanan yang
berangsur-angsur, sesuai dengan pemekaran kemampuan-kemampuan dari anak;
6)
perasaan-perasaan
keagamaan dibentuk mendahului dari kata-kata atau simbol-simbol yang dimiliki
anak;
7)
perlu
ada pandangan yang revolusioner tentang disiplin, yang didasarkan pada
kemampuan baik dan kerjasama antar
pelajar dengan pengajar; dan
8)
diperlukan
alat baru dalam pendidikan guru dan studi tentang pendidikan sebagai sebuah
ilmu. (Mudyahardjo, 2001: 121)[5]
Pendapat Pestalozzi tersebut implementasinya dalam pendidikan
dilakukan dalam pengajaran klasikal jangan sampai merugikan bagi kepentingan
anak sebagai individu dalam belajar, hal yang diperhatikan adalah kelas sebagai
keseluruhan. Guru mencoba menyesuaikan pengajarnnya dengan kemampuan rata-rata
anak yang cepat serta mengabaikan anak-anak yang lambat, hal ini penting untuk
diketahui bagi setiap guru, agar ia dapat menentukan solusi yang paling arif. Walupun
pengajaran klasikal sangat umum dijalankan, ini tidak berarti bahwa perbedaan
individual dapat diabaikan.
Nasution (2000:41) berpendapat bahwa justu karena pengajaran kita
bersifat klasikal harus lebih diperhatikan perbedaan individual, yaitu guru
dengan sadar memaksa dirinya memberi perhatian kepada setiap anak secara
individual di kelasnya.
Kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat menerima atau menghafal
pada umumnya diberikan secara klasikal. Siswa yang berjumlah kurang lebih 30
atau 40 orang siswa, pada waktu yang sama menerima bahan yang sama, umumnya
kegiatan ini diberikan dalam bentuk ceramah. Dalam mengikuti kegiatan belajar
ini, murid-murid dituntut untuk selalu memutuskan perhatian terhadap pelajaran,
kelas harus sunyi dan semua murid duduk ditempat masing-masing mengikuti uraian
guru.[6]
B.
Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan
belajar, dapat dilakukan melalui tindakan penciptaan tertib belajar di kelas.
Penciptaan suasana menyenangkan dalam belajar ini dilakukan dengan pemutusan
perhatian pada bahan pelajaran dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan
materi pelajaran, dan mengikutsertakan siswa secara aktif sesuai dengan kondisi
siswa.
Belajar secara klasikal cenderung menempatkan siswa dalam posisi
pasif, sebagai penerima bahan ajaran. Upaya mengaktifkan siswa dapat
menggunakan metode tanya jawab, demonstrasi, diskusi, dan lain-lain yang sesuai
bagi para murid-muridnya.
Sehubungan dengan hal itu Pestalozzi mengatakan tujuan pendidikan
adalah tercapainya perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya-daya
jiwa. Untuk membantu peserta didik memikul tanggung jawab atas perilakunya dan
tanggung jawab atas perilakunya dan tanggung jawab lingkungan sosialnya
sehingga dapat digunakan dalam lingkungan kelas. Model ini dalam kelas diwujudkan
dalam bentuk suatu pertemuan dimana kelompok bertanggung jawab untuk membangun
sistem sosial yang sesuai.[7]
Penerpan model ini dimaksudkan untuk melaksanakan unsur perbedaan
perseorangan dengan tetap menghargai tugas-tugas bersama dan hak-hak orang
lain. Model ini memberikan metode langsung untuk mengelola suasana pengajaran
atau “instructional setting” dan untuk mengorganisasikan peserta didik
agar dapat bertanggung jawab atas sistuasi kelas dalam proses pebelajaran.
Model ini sering disebut “Classroom Management Model”. Model ini
memiliki karakteristik yang memberikan suasana belajar individual dan kelompok,
serta pencapaian keterampilan sosial. Model ini juga dapat digunakan untuk
mencapai tujuan yang bersifat akademis.[8]
C.
Ciri
Mengajar Klasikal Yang Efektif
Ciri-ciri
mengajar yang baik :
1.
Guru
memahami dan menghormati siswa.
2.
Guru
menguasai dan menyukai materi yang diajarkan materi.
4.
Guru selalu
menyesuaikan materi pelajaran dengan tingkat kemampuan siswa.
5.
Guru selalu
mengaktifkan siswa dalam hal belajar.
6. Guru mengutamakan aspek pemahaman
dari pada aspek hafalan.
7. Guru tidak terikat pada satu teks
book.
BAB III
KESIMPULAN
Pembelajaran klasikal mencerminkan kemampuan utama guru, karena
pembelajaran klasikal ini merupakan kegiatan belajar dan mengajar yang
tergolong efisien. Pembelajaran secara klasikal ini memberi arti bahwa seorang
guru melakukan dua kegiatan sekaligus, yaitu:
A.
Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan
terselenggarakannya kegiatan pembelajaran secara baik dan menyenangkan yang
dilakukan di dalam kelas diikuti sejumlah siswa yang dibimbing oleh seorang
guru.
B.
Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan
belajar, dapat dilakukan melalui tindakan penciptaan tertib belajar di kelas.
Penciptaan suasana menyenangkan dalam belajar ini dilakukan dengan pemutusan
perhatian pada bahan pelajaran dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan
materi pelajaran, dan mengikutsertakan siswa secara aktif sesuai dengan kondisi
siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Sagala,
Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: ALFABETA.
Tohirin.
2005. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
[1] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: ALFABETA,
2010, hal. 185.
[2] Drs.
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 2005, hal. 64.
[3] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, hal. 185-186.
[4] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, hal. 186.
[5] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, hal. 186-187.
[6] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, hal. 187.
[7] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran.
[8] Prof.
Dr. H. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, hal. 188.
[9] http://fauzizdeslav.blogspot.com/2013/09/belajar-mengajar-dan-pelayanan-klasikal.html
Comments
Post a Comment